Masalah Tunjangan Sertifikasi: JJM tidak Linear

Published by oiisiparju on  | 3 comments

Berikut kata kunci yang sering di cari di mesin pencari saat ini, JJM guru tidak linear, jam ktsp tidak linear dengan jam dapodik.

Entah berapa kali para team pengajar di seluruh indonesia saat ini login ke untuk melihat data nya linear atau tidak, ada pula yang tidak tau tapi karena dengan jam tidak linear langsung mengamuk dengan operator program sekolah karena jam nya tidak linear, mereka berfikir ini adalah pekerjaan operator di sekolah, itu cuma sebatas pikiran dangkal si guru tersebut coba kita pikir panjang terlebih dahulu dan melekkan mata kita dan baca dulu panduan sertifikasi itu bagaimana niscaya tidak akan ada pikiran buruk terhadap siapa-siapa.
pengertian jam linear itu sebenar nya sederhana dan logis, seseorang yang di katakan jjm nya linear itu mempunyai tugas dan tanggung jawab terhadap mata pelajarannya sesuai dengan bidang sertifikasi yang di ambilnya. ini dimaksudkan agar si guru akan profesional dan betul-betul memahami mata pelajaran yang di ajarkannya, dan itu hanya boleh dipilih 1 mata pelajaran untuk 1 orang guru. jadi jika guru mata pelajaran agama mengajar mata pelajaran seni kan emang benar tidak nyambung. 
Penjelasan Sederhana nya seperti ini  menyangkut JJM Linier dan JJM KTSP yang saat ini di perdebatkan oleh guru di indonesia :
1. JJM Linier : Jam Mengajar guru yang akan di akui sistem adalah perhitungan berdasarkan mata pelajaran Sertifikasi yang di ambil guru tersebut (Contoh : Sertifikasi mata pelajaran IPS tetapi mengajar IPA itu tidak akan dihitung jam mengajarnya Oleh P2TK)
 
2. JJM KTSP : Kurikulum operasional yang di buat dan dilaksanakan di masing-masing Sekolah. Jam mengajar dihitung sesuai dengan kurikulum yang berlaku. (Contohnya kurikulum yg berlaku utuk jam mata pelajaran Agama di KTSP = 2 Jam. Tetapi di Rombel data program diisi 3 jam, maka di JJM yang akan dihitung sesuai KTSP yaitu 2 Jam.

JJM KTSP sekolah ini juga masih dipertanyakan apa benar melaksanakan JJM Sejumlah KTSP Sekolah atau hanya di buat saja, tentu JJM harus bisa di pertanggung jawabkan di atas kertas. Apa pernah sekolah tersebut membuat peraturan atau kesepakatan perubahan JJM kurikulum tersebut dan memberikan laporan tertulis atas perubahan JJM di sekolah tersebut ke komite, Dinas Pendidikan Kab/Kota/Provinsi yang membuat JJM melebihi jam dari yang di tentukan sebelum nya. dan atas dasar apa JJM tersebut di rubah.

Tentu guru yang mata pelajarannya tidak linear tidak akan bisa menjawab karena memang tidak pernah mereka membuat hal tersebut. pada Kurikulum KTSP di benarkan menambah akan tetapi bagaimana para pemegang kebijakan di atas yang membuat dan menghitung JJM bisa tau jika kita dari pihak sekolah saja tidak pernah memberi tahukan berapa JJM yang kita rubah.
Dan untuk masalah JJM yang tidak linear karena mengajar mata pelajaran yang lain. disitulah sebenarnya fungsi kontrol dari pemerintah pusat yang selama ini bisa di katakan bisa di kadali karena guru membuat laporan yang penting JJM 24, mereka tidak memperdulikan mata pelajaran yang di maksudkan dalam sertifikasi mereka. yang di katakan Profesional itu adalah seseorang yang bekerja dan menekuni bidang pekerjaannya sesuai dengan bidang yang di kuasai tentunya, itu kata saya. tapi lain lagi merut beberapa rekan guru mereka mengatakan rubah saja agar linear yang penting saya dapat sertifikasi kalau tidak keluar artinya operator yang tidak benar kerjanya, itulah hal yang saat ini di perdebatkan oleh guru di sekolah.
Dari tulisan diatas para guru hendaknya berfikir kembali apa benar saya mempunyai Hak untuk mendapatkan uang tunjangan sertifikasi itu atau tidak. jika selama ini dapat itu karena kurangnya pengawasan. dengan sistem ONLINE seperti ini tentu rekan-rekan yang nota bene bukan guru pasti setuju karena selama ini guru yang mendapatkan sertifikasi juga tidak meningkat kemampuan nya dalam mendidik. uang yang di dapat dari sertifikasi yang di harapkan untuk meningkatkan kompetensi dan kemampuan guru dalam kegiatan belajar mengajar itu boleh dikatakan minim. buktinya bisa kita lihat guru yang mendapat sertifikasi apa mereka semua sudah punya laptop atau perangkat mengajar yang lengkap yang dapat membantu mereka mengajar. tentu tidak guru masih berfikir untuk mengajar harus di sediakan oleh pihak sekolah dan pemerintah. jadi untuk apa sebenar nya di berikan tunjangan sertifikasi itu, Jika tidak ada juga kelebihan antara guru sertifikasi dengan yang tidak menerima sertifikasi.
Seharusnya pemerintah pusat yang memberikan dana sertifikasi pada para guru juga memberikan pengawasan terhadap guru penerima sertifikasi dan harus mempunyai nilai lebih terhadap pendidikan yang di ajarkan di sekolah guru tersebut, ini dimaksudkan agar pemberian tunjangan tersebut tidaklah sia-sia seperti memberikan bonus tiap bulannya. harus ada pengecekan apakah guru penerima sertifikasi telah memiliki perangkat mengajar yang cukup untuk meningkatkan kemampuan dan apakah guru tersebut bertambah kemampuan nya setelah di beri tunjangan sertifikasi itu.
Bisa kita lihat para guru penerima sertifikasi berapa persen yang kwalitas nya yang meningkat ? 
Jika di kota besar mungkin saja mereka berlomba-lomba untuk meningkatkan kemampuan dan kwalitas nya dalam mengajar karena mereka mengajar di sekolah unggulan atau pavorit sehingga mereka akan malu sendiri jika tidak memiliki sarana dan prasarana yang memadai. tapi coba kita lihat ke daerah apakah kwalitas guru meningkat, jawabannya tentu, tentu tidak semua yang menigkat, jika di persentasekan bisa di katakan 90% tidak ada perubahan 10% ada peningkatan karena merasa punya dana lebih untuk meningkatkan kwalitas dan merasa guru tersebut harus tampil lebih baik dalam kegiatan mengajarnya sehingga perangkat mengajar seperti laptop dan perangkat lain akan disediakan nya. sedangkan 90% lagi dari penerima sertifikasi di gunakan untuk menyekolahkan anak ke luar kota, membangun rumah baru, membeli mobil baru. yang semua itu tidak ada kaitannya dengan peningkatan keahlian guru tersebut. sedangkan guru yang penerima sertifikasi itu rata-rata guru yang telah senior atau yang telah sangat lama mengapdi di sekolah tersebut. sehingga untuk mengikuti perkembangan jaman dalam mengajar itu akan sangat mustahil.
guru berusia 50 tahun keatas apa mungkin akan bisa mengajar menggunakan media pembelajaran berbasiskan ICT seperti menggunakan laptop dan membuat menyajikan materi dengan power point. itu kan tidak masuk di akal. padahal guru saat ini bisa di katakan harus bisa menggunakan perangkat ICT.
Jadi buat para guru yang nantinya mendapatkan dana tunjangan sertifikasi, gunakanlah dana tersebut untuk meningkatkan kemampuan dalam mengajar, tidak perlu semua tapi adalah kata meningkatnya. sehingga guru yang menerima merasa memang pantas saya menerima uang tunjangan tersebut. karena semakin saya di tunjang saya akan semakin meningkatkan kwalitas saya. dan itu yang di harapkan pemerintah. apa lagi di tahun 2013 menggunakan kurikulum baru.
dan saya juga berharap nantinya untuk guru yang tidak mengajar berdasarkan JJM mata pelajaran sertifikasi tidak akan mendapatkan tunjangan sertifikasi. dan program yang telah ada itu tidak di tambahkan untuk membuat JJM menjadi linear dengan mata pelajaran lainnya. karena kasihan lihat guru yang belum sertifikasi seakan di anak tirikan karena semua jam pelajaran pertama kali di alokasikan ke guru penerima sertifikasi sisa nya barulah di berikan ke guru yang tidak mendapatkan sertifikasi, sedangkan dulu sebelum adanya sertifikasi para guru yang senior selalu berkata berikan saja jam yang banyak itu pada guru yang muda mereka kan masih fresh dan kuat kalau mengajar dengan JJM yang banyak, jangan di samakan dengan guru yang tua kasihanlah kalau banyak beban mengajar nya.
Saat ini sepertinya yang lebih berhak dalam JJM itu adalah guru yang mendapatkan sertifikasi, sedangkan guru tidak menerima sertifikasi tidak berhak untuk mengajar di sekolah tersebut. karena JJM di utamakan untuk di alokasikan ke guru sertifikasi. kita lihat nanti jika guru yang JJM nya tidak linear apa meraka masih mau mengajar seperti sebelumnya, apa mereka masih mau mengajar mata pelajaran yang seperti hari-hari sebelumnya. hanya mereka dan ALLAH lah yang tau niat mereka itu apa

Filed in :
Tentang admin

Saya pemilik blog ini, juga website: parjuangan-panggabean.in. Tujuan saya membuat postingan-postingan ini adalah untuk berbagi ilmu pengetahuan maupun pengalaman, karena saya masih memiliki ilmu yang sangat terbatas blog ini saya jadikan sebagai buku catatan online agar dengan mudah ditemukan

3 komentar:

  1. Maaf, sepertinya tulisan anda kurang obyektif. Ketika kita membahas uang sertifikasi yang diterima oleh guru, begitu banyak ketidak ikhlasan yang tersirat dalam hampir semua tulisan. Tetapi tolong kita cermati berapa gaji yang diterima oleh guru dan berapa yang diterima oleh PNS non guru? Dan perlu diingar bahwa ketika seorang guru diangkat menjadi PNS, pada umumnya mereka adalah lulusan S1 (golongan IIIa). Sehingga kalau membandingkan gaji tolong dibandingkan dengan gaji PNS non guru yang memiliki golongan sebanding. Berapa tunjangan struktural/remun yang mereka terima? Kalau kita amati, tidak ada yang terlalu istimewa. Bukannya kurang bersyukur, tetapi banyak tulisan yang tidak membahas masalah tunjangan sertifikasi secara proposional. Memang tidak semua guru menjalankan tupoksinya dengan baik, tapi masih sangat banyak guru yang baik. Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ok, saudara bisa saja bilang begitu karna saudaa membandingkannya dengan pegawai non guru tp coba saudara bandingkan antara guru sudah sertifikasi dgn yg belum, sudah adakah perbedaan yang mencolok dari segi kenerjanya? Saya rasa belum. Saudara mungkin sudah sertifikasi semoga kiranya tidak seperti kawan2 yang lain seperti cerita diatas. Salam

      Hapus
  2. menanggapi komentar yang mengatakan tulisan ini kurang objektif, mungkin saudara perlu mencermati dan menanggapi secara fair memang inilah kenyataan yang terjadi dilapangan. kita bukannya tidak setuju dengan adanya sertifikasi ini bahkan sebagai guru kita malah bersyukur karena merasa tertolong dengan adanya tunjangan tersebut, tp coba saudara lihat sendiri dilapangan apa yang menjadi pembeda antara guru yang sudah sertifikasi dengan yang belum sertifikasi? sudah lebih baikkah kwalitas, alat peraga, media dan disiplin mereka dalam melaksanakan tugas?. jadi sudah seharusnya guru yang sudah sertifikasi memiliki kesadaran untuk melaksanakan tugas sesuai dengan gelarnya sebagai guru profesional karena Profesional itu adalah seseorang yang bekerja dan menekuni bidang pekerjaannya sesuai dengan bidang yang di kuasai, jangan hanya ingat sertifikasi ketika ingin mencairkan uang di bank atau ketika JJMnya tidak linear.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar dengan sopan, hindari Unsur SARA..

Google+ Followers

    If you would like to receive our RSS updates via email, simply enter your email address below click subscribe.

    Tukeran Link

Pengumuman! close

Perhatian buat pengunjung :

Sekarang Blog ini sudah di pindah ke domain sendiri, jadi silahkan klik http://parjuangan-panggabean.in/ untuk mendapatkan up date selanjutnya. salam blogger..

© 2011-2014 Parjuangan Panggabean; marsiajar-ajaran anso rap malo. Distributed By Blogger Templates | WP Theme-junkie converted by Bloggertheme9
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top